Development · 14 min read

Biaya Pembuatan Website Perusahaan dan Komponen yang Sering Terlewat

Add us as a preferred source on Google

Sebuah perusahaan menerima dua proposal pembuatan website. Penyedia pertama menawarkan harga Rp12 juta, sementara penyedia kedua mengajukan anggaran Rp45 juta. Keduanya sama-sama menawarkan website company profile, tampilan yang dapat diakses melalui smartphone, halaman layanan, dan formulir kontak.

Dari daftar pekerjaan yang terlihat, selisih harganya cukup sulit dijelaskan. Apalagi jika perusahaan hanya membutuhkan website untuk memperkenalkan bisnis, menampilkan produk, dan memudahkan calon pelanggan menghubungi tim penjualan.

Namun, perbedaan biaya pembuatan website perusahaan tidak selalu berasal dari desain atau jumlah halaman. Ada pekerjaan yang hasilnya langsung terlihat oleh pengunjung, tetapi ada pula yang baru terasa ketika website mulai digunakan untuk menjalankan aktivitas bisnis.

Website mungkin terlihat selesai ketika sudah dapat diakses melalui domain perusahaan. Persoalannya, belum tentu seluruh kebutuhan untuk mengoperasikan, mengembangkan, dan mengukur performanya sudah diperhitungkan.

Di sinilah perusahaan perlu melihat anggaran pembuatan website secara lebih menyeluruh, termasuk komponen yang sering terlewat ketika membandingkan penawaran.

Berapa Biaya Pembuatan Website Perusahaan?

Harga pembuatan website perusahaan sangat bergantung pada kebutuhan dan tingkat kerumitan pekerjaannya. Website sederhana yang menggunakan desain siap pakai tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan website yang dirancang khusus, memiliki banyak halaman, atau terhubung dengan sistem perusahaan.

Sebagai gambaran, berikut simulasi rentang anggaran berdasarkan beberapa tingkat kebutuhan.

Jenis kebutuhan websiteAsumsi anggaran pembuatanGambaran pekerjaan
Website company profile sederhanaRp5–15 jutaWebsite dengan beberapa halaman utama, desain berbasis template, informasi perusahaan, layanan, dan kontak
Website perusahaan untuk pengembangan bisnisRp15–50 jutaDesain yang disesuaikan dengan brand, pengaturan halaman lebih terencana, kemudahan pengelolaan konten, serta fitur pendukung pemasaran
Website perusahaan dengan kebutuhan kompleksRp50–150 juta atau lebihBanyak halaman atau kategori, desain dan fitur khusus, beberapa bahasa, integrasi dengan sistem lain, serta kebutuhan pengelolaan yang lebih luas

Catatan: Angka tersebut merupakan asumsi

Rentang harga tersebut juga belum tentu mencakup biaya domain, hosting, pemeliharaan, produksi foto, penulisan konten, atau pengembangan fitur tambahan setelah website diluncurkan.

Perusahaan dengan kebutuhan sederhana mungkin tidak perlu mengeluarkan anggaran puluhan juta rupiah. Sebaliknya, perusahaan dengan banyak produk, beberapa unit bisnis, dan kebutuhan pemasaran yang terus berkembang perlu mempertimbangkan apakah website yang murah di awal akan tetap memadai dalam beberapa tahun berikutnya.

Pertanyaan yang lebih penting akhirnya bukan sekadar berapa harga sebuah website, melainkan pekerjaan apa saja yang harus diselesaikan agar website tersebut dapat menjalankan perannya bagi perusahaan.

Mengapa Biaya Website Bisa Berbeda meskipun Jumlah Halamannya Sama?

Jumlah halaman sering menjadi dasar awal penyedia jasa ketika menghitung harga pembuatan website. Sepuluh halaman dianggap lebih murah daripada lima puluh halaman, sementara website dengan desain khusus biasanya ditawarkan lebih mahal daripada website berbasis template.

Pendekatan tersebut masuk akal untuk menghitung sebagian pekerjaan, tetapi belum cukup menjelaskan seluruh kebutuhan.

Bayangkan dua perusahaan sama-sama membutuhkan website dengan sepuluh halaman.

Perusahaan pertama merupakan penyedia jasa profesional yang ingin menampilkan profil perusahaan, layanan, pengalaman, tim, dan informasi kontak. Sebagian besar kontennya sudah tersedia dan tidak terlalu sering berubah.

Perusahaan kedua merupakan produsen FMCG dengan beberapa kategori produk, banyak varian, materi promosi, dan kebutuhan pembaruan informasi secara berkala.

Keduanya mungkin memiliki jumlah halaman yang sama ketika website diluncurkan. Namun, website kedua membutuhkan pengaturan konten yang lebih fleksibel agar tim internal dapat menambahkan produk, mengganti informasi, dan menjalankan kampanye tanpa harus mengubah desain setiap kali ada pembaruan.

Perbedaan tersebut memengaruhi cara website direncanakan dan dibangun.

Sepuluh halaman yang dirancang untuk menampilkan informasi tetap tidak selalu membutuhkan pekerjaan yang sama dengan sepuluh halaman yang harus mendukung pertumbuhan produk dan aktivitas bisnis.

Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya menghitung berapa halaman yang ingin dibuat. Perlu dipahami pula siapa yang akan menggunakan website, informasi apa yang perlu tersedia, dan bagaimana website akan dikelola setelah diluncurkan.

Komponen Biaya Pembuatan Website yang Sering Tidak Diperhitungkan

Sebagian komponen pembuatan website memang mudah dikenali. Perusahaan biasanya sudah memahami bahwa desain, domain, hosting, dan proses pengembangan membutuhkan biaya.

Namun, beberapa pekerjaan lain sering dianggap sebagai bagian kecil dari proyek, padahal dapat memengaruhi kualitas website dan biaya pengembangannya.

1. Perencanaan Struktur dan Kebutuhan Website

Sebelum desain dibuat, perusahaan perlu menentukan bagaimana informasi akan disusun dan apa yang diharapkan dari setiap halaman.

Website yang ditujukan untuk memperkenalkan perusahaan membutuhkan susunan informasi berbeda dengan website yang bertugas mengumpulkan calon pelanggan, menyediakan katalog produk, atau membantu pengunjung membandingkan beberapa layanan.

Misalnya, perusahaan manufaktur memiliki lima kategori produk dengan spesifikasi teknis yang berbeda. Jika website hanya menampilkan seluruh produk dalam satu halaman panjang, pengunjung mungkin kesulitan menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Struktur yang lebih terencana dapat membantu perusahaan mengelompokkan produk, menyediakan halaman kategori, dan memudahkan calon pembeli menemukan spesifikasi atau mengajukan permintaan penawaran.

Pekerjaan ini biasanya melibatkan pemahaman kebutuhan bisnis, pengelompokan informasi, serta perencanaan alur pengunjung sebelum masuk ke tahap desain.

Tanpa perencanaan tersebut, website mungkin tetap terlihat menarik, tetapi proses pencarian informasi menjadi lebih rumit daripada yang seharusnya.

2. UX dan UI Design

Dua istilah yang cukup sering muncul dalam proposal website adalah UX dan UI.

UI atau User Interface berkaitan dengan tampilan website, seperti warna, tombol, tipografi, gambar, dan susunan elemen pada halaman. Sementara UX atau User Experience berhubungan dengan pengalaman pengunjung ketika menggunakan website tersebut.

Contohnya, sebuah perusahaan properti memiliki website dengan foto bangunan yang menarik dan desain premium. Namun, calon pembeli harus membuka banyak halaman hanya untuk mengetahui lokasi proyek, pilihan tipe rumah, dan cara menghubungi tim pemasaran.

Secara visual, website tersebut mungkin sudah baik. Dari sisi pengalaman pengguna, masih ada hambatan yang membuat pengunjung kesulitan memperoleh informasi.

Pekerjaan UX membantu menentukan bagaimana pengunjung bergerak dari satu informasi ke informasi lainnya, termasuk kapan mereka membutuhkan tombol kontak, formulir, atau penjelasan tambahan.

Semakin kompleks kebutuhan pengunjung dan fungsi website, semakin besar pula pekerjaan perencanaan pengalaman yang diperlukan.

Karena itu, biaya desain website sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai biaya membuat tampilan yang menarik.

3. Penulisan Konten, Foto, dan Materi Perusahaan

Ada satu kondisi yang cukup sering memperlambat proyek website: desain sudah selesai, tetapi materi yang akan dimasukkan belum tersedia.

Perusahaan mungkin memiliki profil dalam bentuk presentasi, katalog PDF, dokumen penawaran, dan beberapa foto kegiatan. Namun, materi tersebut belum tentu siap digunakan sebagai konten website.

Informasi dalam company profile biasanya disusun untuk dibaca secara berurutan. Sementara pengunjung website bisa langsung masuk ke halaman layanan tertentu dari Google tanpa terlebih dahulu membaca halaman utama.

Akibatnya, konten perlu disusun ulang agar setiap halaman memiliki informasi yang cukup, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan pengunjung.

Belum lagi kebutuhan foto perusahaan, dokumentasi produk, ilustrasi, video, atau penulisan konten dalam beberapa bahasa.

Sebagai contoh, produsen makanan dan minuman mungkin membutuhkan halaman yang menampilkan setiap produk, ukuran kemasan, informasi komposisi, serta materi visual yang konsisten. Jika jumlah produknya banyak, pekerjaan menyiapkan materi tersebut bisa menjadi bagian yang cukup besar dari keseluruhan proyek.

Pembuatan konten semacam ini dapat berkaitan dengan layanan Content Marketing Dabtive, terutama ketika perusahaan membutuhkan informasi yang disusun berdasarkan kebutuhan audiens dan tujuan komunikasi.

Hal yang perlu diperjelas sejak awal adalah apakah agency hanya memasukkan konten yang diberikan perusahaan atau juga bertanggung jawab menulis, mengedit, dan memproduksi materi baru.

4. Penyesuaian Desain dengan Identitas Brand

Perusahaan yang sudah memiliki brand guidelines biasanya lebih mudah memberikan arahan mengenai warna, logo, tipografi, dan karakter visual yang perlu digunakan.

Namun, tidak semua perusahaan memiliki panduan identitas yang cukup lengkap untuk diterapkan pada website.

Ada perusahaan yang hanya memiliki logo, sementara tampilan presentasi, katalog, media sosial, dan materi promosinya menggunakan gaya desain yang berbeda-beda.

Ketika kondisi tersebut dibawa ke proyek website, tim desain perlu mengambil lebih banyak keputusan mengenai bagaimana identitas perusahaan seharusnya ditampilkan.

Pekerjaan ini bisa menjadi lebih kompleks apabila perusahaan sedang melakukan rebranding atau ingin mengubah cara bisnisnya dipersepsikan oleh calon pelanggan.

Dalam situasi seperti ini, pengembangan website dapat berkaitan dengan Brand Identity Design Dabtive, khususnya ketika persoalan utamanya berada pada konsistensi identitas perusahaan di berbagai media.

Perusahaan sebaiknya membedakan apakah proyek website hanya menerapkan identitas yang sudah ada atau juga mencakup pengembangan sistem visual baru. Keduanya merupakan pekerjaan yang berbeda dan dapat memengaruhi anggaran.

5. Fitur Tambahan dan Integrasi dengan Sistem Lain

Tidak semua website perusahaan hanya berfungsi menampilkan informasi.

Sebagian website membutuhkan formulir permintaan penawaran yang langsung diteruskan kepada tim sales. Ada pula yang perlu terhubung dengan CRM, sistem reservasi, database produk, atau platform lain yang sudah digunakan perusahaan.

Contohnya, sebuah perusahaan distributor ingin calon pelanggan dapat memilih beberapa produk sekaligus sebelum mengajukan permintaan penawaran. Kebutuhan tersebut tentu berbeda dengan website yang hanya menampilkan nomor telepon dan alamat email.

Hal serupa berlaku untuk website yang menyediakan pencarian katalog, akses dokumen khusus pelanggan, pilihan bahasa, atau informasi stok yang diperbarui dari sistem internal.

Setiap fitur memiliki kebutuhan pengembangan, pengujian, dan pemeliharaan yang berbeda.

Karena itu, perusahaan perlu menjelaskan sejak awal fitur apa yang benar-benar dibutuhkan. Penambahan fitur setelah proses pengembangan berjalan dapat mengubah ruang lingkup pekerjaan dan menyebabkan biaya tambahan.

6. Persiapan SEO dan Pengukuran Performa

Website yang sudah dapat diakses melalui Google Chrome belum tentu sudah disiapkan dengan baik agar informasinya dapat ditemukan melalui pencarian Google.

Beberapa aspek dasar perlu diperhatikan sejak proses pengembangan, seperti struktur halaman, pengaturan judul, kecepatan akses, kemudahan website digunakan melalui smartphone, serta hubungan antarhalaman.

Kebutuhan tersebut merupakan bagian dari fondasi Technical SEO, yaitu pekerjaan teknis yang membantu mesin pencari menemukan dan memahami isi website.

Selain itu, perusahaan perlu menentukan bagaimana performa website akan diukur. Misalnya, berapa banyak pengunjung yang membuka halaman layanan, mengirimkan formulir, atau mengklik tombol untuk menghubungi perusahaan.

Persiapan pengukuran dapat melibatkan Google Analytics, Google Search Console, dan pencatatan aktivitas pengunjung yang relevan dengan tujuan bisnis.

Website yang akan digunakan sebagai tujuan kampanye iklan juga membutuhkan perhatian pada halaman yang menerima pengunjung dan cara mengukur hasil kampanye tersebut.

Perlu dibedakan bahwa menyiapkan fondasi SEO ketika membangun website tidak sama dengan menjalankan program SEO secara berkelanjutan.

Pengembangan konten berdasarkan keyword, analisis persaingan, dan peningkatan trafik organik merupakan pekerjaan lanjutan yang dapat ditangani melalui SEO Services Dabtive.

Jika sejak awal website belum disiapkan untuk kebutuhan pencarian dan pengukuran, perusahaan mungkin harus melakukan perbaikan tambahan ketika mulai menjalankan aktivitas digital marketing.

7. Keamanan, Pemeliharaan, dan Pengelolaan Setelah Website Diluncurkan

Website tidak berhenti membutuhkan perhatian setelah proses pembuatannya selesai.

Sistem pengelolaan konten, plugin, dan komponen teknis lainnya mungkin memerlukan pembaruan. Perusahaan juga perlu memikirkan pencadangan data, pemantauan keamanan, perpanjangan domain, serta penanganan ketika terjadi gangguan.

Kebutuhan ini sering muncul setelah masa kerja sama awal selesai.

Salah satu hal yang perlu diperjelas adalah apakah biaya pembuatan website sudah mencakup maintenance selama periode tertentu atau hanya sampai website berhasil diluncurkan.

Perusahaan juga perlu memastikan siapa yang memiliki akses utama terhadap domain, hosting, dan sistem pengelolaan website.

Website yang bergantung sepenuhnya pada satu penyedia dapat menimbulkan kesulitan ketika perusahaan ingin mengganti vendor atau melanjutkan pengembangan bersama tim internal.

Website yang baik seharusnya dapat terus dikelola dan dikembangkan, bukan membuat perusahaan selalu bergantung pada pihak yang pertama kali membangunnya.

Kebutuhan Website Berbeda untuk Setiap Industri

Perbedaan karakter bisnis dapat memengaruhi perencanaan website, bahkan ketika tujuan awalnya sama-sama membuat company profile.

Perusahaan B2B mungkin membutuhkan website yang membantu proses evaluasi calon klien. Sementara perusahaan FMCG dapat memerlukan sistem untuk menampilkan banyak kategori produk dan memperbarui materi komunikasi secara berkala.

Berikut beberapa contoh kebutuhan yang dapat memengaruhi ruang lingkup pengembangan.

IndustriKebutuhan website yang perlu diperhatikan
Manufaktur dan distributorKategori produk, spesifikasi teknis, katalog yang dapat diunduh, dan formulir permintaan penawaran
FMCG makanan dan minumanHalaman brand, kategori dan varian produk, informasi kemasan, konten konsumen, serta pembaruan kampanye
PropertiHalaman proyek, lokasi, tipe unit, galeri, informasi ketersediaan, dan kontak pemasaran
Jasa profesionalPenjelasan layanan, profil tim, pengalaman perusahaan, studi kasus, dan kemudahan melakukan inquiry
HospitalityInformasi fasilitas, tipe kamar, pengalaman tamu, integrasi reservasi, dan pembaruan penawaran
Industri dengan pembatasan khusus, termasuk tembakauProfil perusahaan, informasi korporasi, struktur bisnis, dan publikasi yang perlu disesuaikan dengan ketentuan industri

Contoh tersebut bersifat ilustratif. Kebutuhan aktual bergantung pada model bisnis, target pengunjung, dan ketentuan yang berlaku.

Ambil contoh perusahaan FMCG yang memiliki beberapa merek dengan masing-masing puluhan varian produk. Website perusahaan tersebut mungkin perlu mengakomodasi penambahan merek, kategori, dan produk baru tanpa mengharuskan tim mengubah struktur website setiap kali ada peluncuran.

Sementara pada industri yang memiliki pembatasan komunikasi, termasuk produk tembakau, perencanaan konten dan fitur publikasi perlu mempertimbangkan ketentuan yang berlaku. Tidak semua materi promosi yang digunakan di media lain dapat begitu saja dipindahkan ke website.

Perbedaan kebutuhan tersebut menunjukkan mengapa biaya pembuatan website tidak bisa dinilai hanya dari jumlah halaman atau desain yang ditampilkan dalam proposal.

Biaya yang Sering Muncul Setelah Website Selesai Dibuat

Salah satu kesalahan dalam menyusun anggaran website adalah menganggap seluruh biaya selesai ketika website diluncurkan.

Padahal, perusahaan masih membutuhkan domain, hosting, pemeliharaan, serta pembaruan informasi agar website tetap dapat digunakan dengan baik.

Untuk memperjelas perbedaannya, kita dapat menggunakan simulasi sebuah website perusahaan dengan kebutuhan pengembangan menengah.

KomponenAsumsi biaya
Perencanaan dan penyusunan struktur websiteRp6.000.000
Desain UX dan UIRp10.000.000
Pengembangan website dan sistem pengelolaan kontenRp17.000.000
Penyesuaian dan pemindahan kontenRp4.000.000
Pengujian dan persiapan peluncuranRp3.000.000
Total biaya pembuatan awalRp40.000.000
Domain dan hosting selama satu tahunRp3.000.000
Maintenance selama satu tahunRp12.000.000
Pembaruan konten berkala selama satu tahunRp6.000.000
Total asumsi pengeluaran tahun pertamaRp61.000.000

Note: Seluruh angka merupakan simulasi.

Dalam contoh tersebut, website membutuhkan Rp40 juta untuk proses pembuatan awal. Namun, ketika biaya operasional dan pembaruan konten diperhitungkan, kebutuhan anggaran tahun pertamanya menjadi Rp61 juta.

Biaya tambahan ini tidak selalu harus dibayarkan kepada agency yang sama. Perusahaan mungkin memiliki tim IT atau marketing internal yang mampu menangani sebagian pekerjaan. Namun, pekerjaan tersebut tetap memerlukan waktu, tenaga, dan sumber daya.

Inilah alasan perusahaan perlu memahami Total Cost of Ownership, yaitu keseluruhan biaya untuk memiliki, mengoperasikan, dan mempertahankan sebuah website dalam periode tertentu.

Website dengan biaya pembuatan awal yang rendah belum tentu menjadi pilihan paling ekonomis apabila membutuhkan banyak perbaikan setelah diluncurkan. Sebaliknya, website dengan biaya awal lebih besar juga tidak otomatis lebih menguntungkan jika fitur dan tingkat kerumitannya tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Membandingkan Dua Proposal Pembuatan Website dengan Harga Berbeda

Bayangkan sebuah perusahaan sedang membandingkan dua proposal website.

Penyedia pertama menawarkan Rp12 juta untuk pembuatan website company profile menggunakan template yang disesuaikan. Paketnya mencakup halaman utama, profil perusahaan, layanan, galeri, kontak, dan pengelolaan konten dasar.

Penyedia kedua menawarkan Rp45 juta dengan cakupan analisis kebutuhan, perencanaan halaman, desain khusus, sistem pengelolaan konten yang lebih fleksibel, persiapan SEO, pengukuran aktivitas pengunjung, serta pengujian sebelum peluncuran.

Contoh ini merupakan simulasi untuk memperlihatkan perbedaan ruang lingkup pekerjaan, bukan proposal aktual dari penyedia tertentu.

Jika perusahaan hanya memerlukan website sederhana dan seluruh materi sudah tersedia, penawaran pertama mungkin cukup memenuhi kebutuhan.

Namun, jika perusahaan memiliki banyak layanan yang perlu dijelaskan, tim marketing yang aktif memperbarui konten, dan target mendapatkan calon pelanggan melalui Google atau iklan, penawaran kedua mungkin menyediakan fondasi yang lebih sesuai.

Tetap ada kemungkinan perusahaan tidak membutuhkan seluruh pekerjaan dalam proposal yang lebih mahal.

Karena itu, keputusan sebaiknya dimulai dari kebutuhan bisnis, dilanjutkan dengan pemeriksaan ruang lingkup pekerjaan dan biaya pengelolaan setelah website diluncurkan.

Perusahaan juga perlu memastikan apa yang akan diterima pada akhir proyek, termasuk akses sistem, dokumentasi, desain, serta panduan untuk mengelola website secara mandiri.

Kapan Perusahaan Tidak Perlu Membuat Website Baru dari Awal?

Ada kondisi ketika perusahaan merasa website yang dimilikinya sudah terlalu lama dan membutuhkan perubahan menyeluruh. Tampilan dianggap ketinggalan zaman, informasi sulit diperbarui, atau performanya tidak sesuai harapan.

Namun, tidak semua masalah tersebut harus diselesaikan dengan membangun website baru.

Website yang memiliki struktur cukup baik mungkin hanya membutuhkan pembaruan desain, perbaikan navigasi, atau pengembangan beberapa halaman penting.

Begitu pula ketika masalah utamanya berada pada performa pemasaran. Website yang memperoleh banyak pengunjung tetapi sedikit permintaan masuk belum tentu membutuhkan penggantian seluruh sistem.

Perusahaan perlu menilai apakah hambatannya berasal dari informasi yang kurang jelas, pengalaman pengunjung yang buruk, kesulitan menghubungi tim penjualan, atau persoalan teknis yang lebih mendasar.

Jika website masih dapat diperbaiki tanpa mengganggu operasional dan target pengembangan berikutnya, revamp secara bertahap bisa menjadi pilihan yang lebih efisien.

Sebaliknya, membangun website baru mungkin lebih masuk akal apabila sistem lama sulit dikembangkan, bergantung pada teknologi yang tidak lagi memadai, atau struktur informasinya sudah tidak sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Keputusan tersebut sebaiknya dibuat berdasarkan pemeriksaan kondisi website, bukan semata-mata usia atau penampilannya.

Perusahaan yang sudah memperoleh trafik dari Google juga perlu memperhatikan risiko kehilangan pengunjung ketika melakukan pergantian website. Perubahan alamat halaman, penghapusan konten, atau pemindahan sistem tanpa persiapan dapat mengganggu akses terhadap halaman yang sebelumnya sudah ditemukan melalui mesin pencari.

Hal yang Perlu Ditanyakan Sebelum Memilih Jasa Pembuatan Website

Sebelum menyetujui proposal pembuatan website perusahaan, ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu memperjelas pekerjaan dan mengurangi risiko biaya tambahan.

  1. Apa tujuan utama website ini? Apakah untuk memperkenalkan perusahaan, menampilkan produk, mendapatkan calon pelanggan, atau mendukung aktivitas operasional tertentu?
  2. Apa saja yang termasuk dalam harga penawaran? Perjelas apakah desain, pengembangan, pengisian konten, foto, domain, hosting, dan pengujian sudah diperhitungkan.
  3. Apakah website dapat dikelola sendiri? Pastikan tim internal dapat memperbarui informasi yang memang perlu diubah secara rutin tanpa selalu meminta bantuan developer.
  4. Bagaimana website disiapkan untuk SEO dan digital marketing? Tanyakan persiapan dasar yang termasuk dalam pekerjaan serta apa saja yang memerlukan layanan tambahan.
  5. Siapa pemilik akun dan akses utama website? Perjelas kepemilikan domain, hosting, desain, konten, lisensi, dan akses administrasi.
  6. Bagaimana dukungan setelah website diluncurkan? Pastikan masa perbaikan, maintenance, backup, dan penanganan gangguan dijelaskan secara tertulis.
  7. Apa yang terjadi jika kebutuhan website bertambah? Pahami bagaimana penambahan halaman, fitur, integrasi, atau pengembangan berikutnya akan dihitung.

Pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jawabannya dapat menunjukkan apakah dua proposal yang dibandingkan benar-benar menawarkan tingkat pekerjaan dan tanggung jawab yang sama.

Proposal yang baik seharusnya membantu perusahaan memahami apa yang akan dibangun, mengapa pekerjaan tersebut diperlukan, serta bagaimana website akan digunakan setelah proyek selesai.

Menentukan Anggaran Website Berdasarkan Kebutuhan Bisnis

Pada akhirnya, biaya pembuatan website perusahaan dipengaruhi oleh banyak keputusan yang dibuat sebelum proses desain dan pengembangan dimulai.

Jumlah halaman, desain, fitur, dan teknologi memang menjadi bagian dari perhitungan. Namun, perusahaan juga perlu mempertimbangkan siapa yang akan menggunakan website, bagaimana informasi dikelola, serta apa yang perlu dilakukan agar website tetap relevan ketika bisnis berkembang.

Website yang digunakan sebagai profil perusahaan sederhana tidak harus memiliki tingkat pengembangan yang sama dengan website yang menjadi pusat informasi produk, aktivitas pemasaran, atau proses mendapatkan calon pelanggan.

Melalui Web Development Dabtive, pengembangan website dapat direncanakan mulai dari kebutuhan bisnis, struktur informasi, pengalaman pengguna, desain, hingga persiapan teknis dan pengelolaan setelah peluncuran.

Dengan perencanaan yang jelas, perusahaan dapat menentukan pekerjaan yang memang diperlukan, menghindari pengeluaran yang tidak relevan, dan memahami biaya yang mungkin muncul pada tahap berikutnya.

Jika perusahaan Anda sedang merencanakan pembuatan website baru atau mempertimbangkan pembaruan website yang sudah ada, diskusikan kebutuhan dan tujuan bisnis bersama Dabtive. Dari sana, pendekatan pengembangan dan ruang lingkup pekerjaan dapat ditentukan dengan lebih tepat.

Next Reading

Keep exploring.

View All Articles →